Seringkali manusia membuat dikotomi atau pemisahan antara urusan
kehidupan duniawi dan urusan kehidupan akhirat. Mereka memisahkan antara
kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis dengan kesuksesan kerohanian untuk
urusan akhirat. Akibatnya terjadilah pemisahan kepentingan yang
seringkali hanya menomorsatukan kesuksesan pekerjaan untuk keberhasilan
dunia kemudian menomor duakan urusan kesuksesan ukhrawi atau akhirat.
Hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan gerak pekerjaan, bisnis dan
urusan duniawi dengan kepentingan spiritualitas dan kerohanian.
Bagaimana mungkin, karena hidup hanya melakukan pekerjaan dan bisnis
hingga meriah kesuksesan dan prestasi duniawi, tanpa diimbangi
kesuksesan spiritualitas adalah kehampaan. Demikian sebaliknya hidup
dengan spiritualitas tinggi tanpa diimbangi dengan kesuksesan kerja atau
bisnis adalah kehampaan. Keduanya haruslah berjalan seimbang dan
bersinergi dalam mengisi setiap langkah kehidupan.
Kita meyakini hidup tanpa bekerja, berkarya atau berbinis adalah hampa.
Namun persoalannya kemudian adalah bagaimana agar pekerjaan itu memiliki
nilai bermakna tinggi ?. Bagaimana persyaratannya agar pekerjaan kita
memiliki nilai ibadah ?.
Manusia adalah makhluk spiritual dan makhluk fisik di dunia ini. Sebagai
makhluk fisik manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Dengan
demikian ibadah kepada Allah tidak dibatasi makna ibadah hanya ritual
secara spiritual semata. Tapi lebih dari itu, semua pekerjaan
keduniawian bisa memiliki arti ibadah. Artinya, dalam bekerja, berkarya,
berbisnis bukan hanya materi yang bisa kita dapatkan, tetapi juga ridha
dan pahala dari Allah SWT.
Pegawai yang bekerja di kantor, pedagang yang berkerja di pasar, petani
yang bekerja di tanah pertanian, pengusaha yang berbisnis, pejabat
pemerintahan, nelayan, semua pekerjaan bisa bernilai ibadah. Apakah kita
sebagai pegawai biasa, manager, direktur, pejabat tinggi atau bahkan
hanya seorang pembantu, semua posisi pekerjaan itu bisa bernilai ibadah.
Tentu saja ada syarat-syaratnya agar pekerjaan yang dilakukan dapat
memberikan nilai sebagai bagian dari ibadah. Bagaimana syarat-syaratnya ?
1. Tidak Melanggar Syariat Allah. Berusahalah memilih pekerjaan yang
tidak melanggar aturan-aturan Allah. Dengarkan suara hati terdalam dalam
memilih bidang pekerjaan, karena suara hati sesungguhnya percikan dari
sifat-sifat mulia Allah.. Mereka yang memilih pekerjaan berdasarkan
suara hatinya, tidak akan terjerumus dalam pekerjaan yang tidak halal
dan diharamkan oleh agama.
2. Dilandasi Niat Kebaikan dan Keikhlasan. Berusahalah menjalankan
pekerjaan hanya dilandasi oleh niat kebaikan dan keikhlasan hati.
Pekerjaan yang dilandasi niat kebaikan dan keikhlasan hati, akan dapat
mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai
spiritualitas kebenaran, seperti transaksi dengan cara-cara yang tidak
dibenarkan, menipu, merugikan orang lain, menjual narkoba, dll.
3. Menafkahi Keluarga. Bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi
dan keluarga. Bahkan bekerja juga untuk memakmurkan bumi sebagaimana
yang diperintahkan Allah SWT. Dengan demikian, jangan berniat bekerja
untuk menumpuk harta, riya', bermegah-megahan, atau sekedar ingin
dihormati orang lain.


0 komentar:
Posting Komentar